HIDUP MEREKA ADALAH HIDUPMU

Oleh : Muna Agnita – Duta Terumbu Karang Univ. Telkom

Kelangsungan hidupmu berawal dari mana? Pertanyaan sederhana yang harus diperhatikan oleh kaum manusia mulai saat ini. Tahukah Anda bahwa rantai makanan bermula dari ekosistem yang ada di perairan laut. Yaaaa… lebih tepatnya hidup manusia bergantung pada kelangsungan hidup terumbu karang yang ada di bawah laut.

Indonesia merupakan negara maritim yang luas lautnya jauh melebihi luas daratan. Garis pantainya mencapai 95.181 km2, terpanjang di dunia setelah Kanada,  Amerika Serikat, dan Rusia. 65% dari total penduduk 467 kabupaten/kota di Indonesia berada di pesisir dan hampir 60 juta penduduk mata pencahariannya bergantung pada terumbu karang. Kepulauan Indonesia terbentang antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik. Luas  terumbu karang di Indonesia mencapai 50.875 km2 dan Indonesia merupakan rumah bagi sekitar 18% dari terumbu karang di dunia (kedua terbanyak setelah Australia). Sebagian besar terumbu karang ini berlokasi di daerah timur Indonesia yang wilayahnya lazim disebut sebagai wilayah segitiga karang (coral triangle). Terumbu karang di Indonesia yang masuk dalam wilayah coral triangle adalah salah satu yang terkaya dalam keanekaragaman hayati di dunia, rumah bagi sekitar 590 spesies karang keras.

Menurut press release dari World Resources Institute, Juli 2013, 85% terumbu karang di coral triangle tergolong terancam, melebihi rata-rata global yaitu 60% yang memetakan tingkat ancaman terhadap terumbu karang di Indonesia, Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor –Leste. Ancaman ini diakibatkan ulah manusia seperti penangkapan ikan berlebihan, polusi pada daerah aliran sungai, pembangunan kawasan pesisir, peledakan batu karang, pertambangan dan lain-lain. Selain itu apabila digabungkan dengan dampak global warming, pemutihan terumbu karang (coral bleaching) yang didorong oleh kenaikan suhu laut, jumlah ancaman akan meningkat menjadi 90%. Suatu kenyataan bahwa ini menjadi bukti luas terumbu karang di Indonesia dari tahun ke tahun mengalami penurunan dan kerusakan.

Data tahun 2012 dikutip dari kampanye yang ditulis oleh Greenpeace, Pusat Penelitian Oseanografi LIPI mengungkap 5.3% terumbu karang di Indonesia tergolong sangat baik, 27.18% tergolong kondisi baik, 37.25% dalam kondisi cukup, 30.45% berada dalam kondisi buruk. Bahkan Burke, dkk menyebutkan setengah abad terakhir ini degradasi terumbu karang di Indonesia meningkat dari 10% menjadi 50%.

Terumbu karang memiliki banyak potensi yang banyak dimanfaatkan oleh manusia, namun sebagai konsumennya haruslah bertindak secara bijaksana. Pemanfaatan yang kurang bijak maka fungsi terumbu karang tidak akan optimal. Terumbu karang yang bersimbiosis dengan alga Zooxanthella yakni alga bersel satu yang membantu dalam pembentukan kerangka kapur yang sangat penting dalam mengurangi jumlah karbon yang ada di udara. Karbon yang ada di udara akan diubah menjadi CaCO3. Para pakar telah menghitung kemampuan karang mengambil karbon yaitu 111 juta ton/tahun yang ekivalen dengan 2% dari seluruh karbon yang ada. Menurut Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia, diramalkan bahwa 50-100 tahun yang akan datang karang dapat menyerap 4% dari jumlah karbon (CO2) yang dilepas di udara, jika kondisi terumbu karang di dunia tidak mengalami kerusakan.

Secara umum terumbu karang hanya tumbuh di daerah tropis dan subtropis, sehingga memerlukan tempat yang nyaman untuk berkembang dengan baik, seperti air yang jernih, suhu antara 23-32 derajat celcius, dengan kedalaman kurang dari 40 m.

Oleh sebab itu, terumbu karang wajib dilestarikan dan diperhatikan keberadaannya agar ekosistem tetap terjaga dengan memulihkan kondisi dan melindungi ekosistem laut. Perlu adanya konservasi dan pengelolaan, baik dari generasi muda, pemerintah negeri dan swasta, serta masyarakat Indonesia khususnya pesisir. Terbukti dengan berbagai manfaat dan potensi terumbu karang yang sangat penting di Indonesia, diantaranya terumbu karang menjadi salah satu sumber pendapatan utama dan bagian dari hidup nelayan, salah satu faktor yang dapat meningkatkan devisa negara melalui nilai estetikanya sebagai objek wisata. Secara fisik karang dapat melindungi pantai dari degradasi dan abrasi. Fungsi lain yang tak kalah pentingnya adalah sebagai tempat memijah, mencari makanan, daerah asuhan dari berbagai biota laut dan sebagai sumber plasma nutfah serta merupakan sumber berbagai makanan dan bahan baku substansi biokatif yang berguna dalam bidang farmasi dan kedokteran.

Salah satu upaya yang sedang dikembangkan beberapa tahun ini adalah dengan membuat karang buatan dan transplantasi karang. Tentunya dilakukan secara bertahap mengingat waktu tumbuh karang yang menggunakan hitungan tahun dan harus dimonitoring secara berkala. Keuntungan segi ekonomi dan sosial sangatlah banyak apabila kita dapat memanfaatkan kekayaan laut di Indonesia dengan bijaksana, mulailah dari sekarang untuk mengubah pola pikir kita dengan ‘think before act’ dan ‘use it wisely’. (Una/Dikutip dari berbagai sumber)

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *