Pestisida Organik di Sekitar Kita

Indonesia masih menjadi Negara agraria yang tidak sedikit lahan digunakan untuk bertani. Kekayaan varietas tanaman dengan beragam fungsi sebagai pestisida masih belum termanfaatkan dengan baik. Hal ini terbukti demgan penggunaan pupuk kimia yang mencapai 95% dengan penggunaan untuk tanaman padi mencapai 6-7 ton per tahun di tahun 2012.

Padahal banyak sekali kerugian yang akan didapatkan dengan menggunakan pupuk kimia berlebihan dalam jangka waktu yang panjang, dapat berpengaruh terhadap kesehatan manusia, berpengaruh buruk terhadap kualitas lingkungan, dan meningkatkan perkembangan jasad pengganggu tanaman.

Menurut Guru Besar Perlindungan Tanaman Universitas Hasanudin Makassar, Sylvia Sjam, tanaman mengandung berbagai senyawa sekunder yang berperan dalam interaksi antara tanaman dengan hama. Senyawa-senyawa yang terkandung dalam tanaman tersebut adalah alkaloid, terpenoid, dan flavanoid. Senyawa ini mampu menjadi sistem pertahanan tanaman terhadap organisme pengganggu tanaman.

Tanaman-tanaman tersebut mampu menghambat, mematikan, dan menghambat perkembangan organisme pengganggu.

Di Indonesia saat ini, sekitar 1.000 spesies tanaman mengandung bahan insektisida dengan rangkuman sebagai berikut: ±380 spesies pencegah makan (antifeedent), 270 spesies penolak (repellent), 35 spesies sebagai akarisida dan 30 spesies memiliki zat penghambat pertumbuhan, berfungsi sebagai fungisida, bakterisida, dan nematisida.

Salah satu contoh tanaman yang bersifat pestisida adalah tanaman paitan (Tithonia sp) dan kenikir (Tagetes erectabe) yang berfungsi sebagai racun kontak pada beberapa jenis hama di tanaman-tanaman tertentu. Kenikir bersifat nematoda dan memiliki rasa pekat dan mengandung senyawa saponin dan flavonoid.

Berdasarkan hasil penelitian selama 10 tahun terakhir, tanaman lokal lain juga memiliki sifat pestisida di antaranya: tembelekan (Lantana camara), teketan (Chromalaena odorata), cocok botol (Tagetes erecta), bandotan (Ageratum conyzoides), legundi (Vitex trifolia), galenggang kecil (Cassia tora), maja (Crescentia cujete), kaliandara, gamal, sereh wangi (Andropogon nardus), dan kemangi (Occimum sanctum). Tanaman-tanaman ini harus diekstrak terlebih dahulu sebelum digunakan sebagai pestisida.

Tak hanya dengan ekstrak tanaman, tanaman-tanaman dengan sifat pestisida bisa digunakan dengan cara yang berbeda. Misalnya menempatkan tanaman sebagai tanaman sela yang berfungsi sebagai penghalang yang bersifat repellent.

Pola penanaman yang bisa digunakan untuk memanfaatkan sifat pestisida tanaman adalah tumpang sari. Menurut Sylvia, tumpang sari mampu menurunkan kepadatan populasi hama dibanding dengan sistem monokultur. Hal tersebut dikarenakan senyawa kimia mudah menguap dan ada gangguan visual oleh tanaman bukan inang, yang mempengaruhi tingkah laku dan kecepatan kolonisasi serangga pada tanaman inang.

Salah satu yang dapat dijadikan contoh adalah bawang putih. Bawang putih yang ditanam di antara kubis mampu menurunkan populasi hama ulat daun kubis atau Plutella xylostella. Bawang putih melepas senyawa alfi sulfida yang dapat mengurangi daya rangsang senyawa atsiri yang dilepas kubis sehingga mampu mengusir hama tersebut.

Tumpang sari dengan penanaman tanaman perangkap di antara tanaman utama mulai diterapkan untuk mengendalikan populasi hama. Jagung merupakan salah satu tanaman yang mampu menarik serangga dan musuh alaminya. Jagung dapat digunakan sebagai tanaman perangkap untuk mengendalikan hama pada tanaman kapas (Helicoverpa armigera).

Pengendalian hama pada proses pasca panen juga dapat menggunakan pestisida dari tanaman. Sebagai contoh, bait attractan trap dari A. colomus dan ekstrak biji coklat dalam bentuk pellet digunakan di gudang dan tempat penyimpanan untuk mengurangi hama gudang A. fasciculatus.

Penggunaan pestisida dari tanaman diharapkan cukup efektif mengingat bahan-bahan tersebut ada di sekitar kita (petani). Sosialisasi dan penggunaan secara bertahap perlu dilakukan agar ketergantungan terhadap pupuk kimia bisa dikurangi sedikit demi sedikit.

Hasil yang didapatkan memang belum seampuh pestisida kimia, namun penggunaan pestisida dari tanaman perlu dicoba agar kelestarian lingkungan tetap terjaga dengan produktivitas tanaman yang lebih baik.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *