Perairan Derawan: Dua Satwa Dilindungi Rawan Perburuan Ilegal

Perairan derawan yang merupakan surga bagi para penyelam di seluruh dunia terancam tidak memiliki satwa khusus yang dilindungi, penyu dan pari manta. Pasalnya berbagai kasus pencurian dan perburuan spesies di wilayah perairan Indonesia oleh kapal-kapal asing masih terjadi.

Perairan yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur ini memiliki luas sekitar 1,27 ha dan berdekatan dengan wilayah perbatasan merupakan sasaran empuk kapal asing untuk mengeksploitasi perairan ini.

Seperti yang terjadi sebulan lalu, 12 perahu yang berasal dari luar Indonesia tertangkap melakukan pemancingan liar (illegal fishing) di area perairan derawan. Semua perahu tersebut diamankan oleh nelayan bersama jajaran Pos Angkatan Laut, Polres Berau dan petugas Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP) Pulau Derawan.

Dari kedua belas perahu tersebut ditemukan hasil tangkapan berupa dua ekor penyu dan beberapa ikan pari manta. Kedua spesies tersebut merupakan satwa dilindungi undang-undang.

Illegal fishing yang dilakukan tersebut cukup mengganggu habitat kedua satwa tersebut, terlebih kapal-kapal tersebut menggunakan pukat harimau yang dapat membahayakan ekosistem perairan derawaan.

Jika illegal fishing berlangsung terus-menerus, maka sudah pasti ekosistem perairan akan sangat terganggu karena beberapa komunitas yang mendukung perairan tersebut terancam punah.

Berdasarkan data yang diperoleh, di Pulau Sangalaki Kepulauan Derawan, pada tahun 1950 jumlah populasi penyu yang bertelur sekitar 200-an ekor/malam, tahun 1970-an jumlahnya menurun menjadi 150-an ekor/malam. Jumlahnya terus menurun, di tahun 1993 sekiar 39 ekor/malam, dan tahun 2002 hanya tercatat sekitar 15 ekor/malam.

Sumber: mongabay.co.id & berbagai sumber lainnya

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *