Matoa Writing Contest : JERITAN LERENG BUNGBRUN GUNUNG PAPANDAYAN

Kebakaran hutan yang melanda kawasan Gunung Papandayan pada akhir tahun 2012 lalu telah menyisakan duka yang begitu besar, Lereng Bungbrun (bagian dari Gunung Papandayan) mengalami kerusakan paling dahsyat, bagaimana tidak, seluruh tutupan hutan tropis pegunungan di wilayah itu luluh lantah dengan hanya menyisakan puing-puing kayu yang telah menjadi arang, sebagian lagi masih berdiri berupa tiang-tiang yang gosong.  Mereka merasakan dirinya dibakar hidup-hidup waktu itu, tak hanya itu, mungkin ribuan organisme tanah mati tanpa mampu menyelamatkan diri, burung-burung jatuh bergelimpangan, serangga-serangga ikut gosong. 

Mang Ipin dan Mang Ujang (Petugas BKSDA) yang sehari-hari mengurus Cagar Alam Papandayan begitu trenyuh dan berkali-kali mengelus dada sembari menunjukkan wajah kesedihannya.  Upaya pemadaman swadaya yang dilakukan bersama para voulentair lingkungan dengan peralatan seadanya tetap tak mampu menakhlukkan raja api yang begitu besar, lereng dan jurang yang begitu terjal menyulitkan tim fire rescue ini untuk memadamkan api.  Kawan-kawan berusaha mencegah api tidak menjalar lebih luas dengan membuat sekat-sekat bakar. 

Salut kepada mereka yang telah berkorban mempertaruhkan keselamatan dirinya demi sekantong keanekaragaman hayati di Lereng Bungbrun.  Hanya dalam waktu beberapa saat seluas kurang lebih 30 ha ekosistem hutan tropis pegunungan dengan berbagai keanekaragaman hayatinya yang dimilikinya musnah, luluh lantah, gosong dengan kepulan asap tebal, semua diam tak bergeming, begitu miris dan tragis tragedi ini.  Tak terbayangkan bila ini terjadi pada kita terbakar hidup-hidup. Tidak hanya itu, pipa-pipa pralon untuk mengalirkan air bersih yang yang selama ini menjadi hajat hidup masyarakat sekitar di lereng itu pun rusak dilalap api, menyisakan derita dan tangis memilukan.

Setelah 3 bulan berlalu, aku bersama Eko (asistenku) diajak Mang Ipin dan Mang Ujang menyaksikan sisa-sisa kebakaran ini, betul-betul memprihatinkan hutan kita, namun Mang Ipin dengan senyumnya selalu optimis, selain proses suksesi yang terjadi, kita akan tanami kembali hutan rusak ini, keceriaan Mang Ipin dan Mang Ujang dengan kesungguhan kerjanya yang tanpa pamrih perlu kita acungi jempol, walaupun kesejahteraannya kurang mendapat perhatian, tapi dia tetap enjoy melaksanakan tugas-tugasnya.  Marilah kita contoh etos kerja kedua petugas Cagar Alam Papandayan ini, dengan kemampuan yang ada pada kita untuk mendukung lestarinya hutan tropis kita.

Kini areal bekas kebakaran itu sedang aku teliti, mengamati proses suksesi yang terjadi, ada harapan besar dari areal ini yang mengisayaratkan kepadaku untuk ingin kembali pulih.  Disana-sini mulai terlihat anakan-anakan alam Haruman (Paraserianthes lophanta) mulai tumbuh menjadi jenis tumbuhan pionir.  Dengan segenap dedikasi yang kita miliki, marilah kita dukung dan jaga proses suksesi ini dengan tidak mengganggu areal.  Semoga tulisan ini bermanfaat bagi semua pihak dan meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian hutan tropis. Salam Hijau.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *