Maleo, si cantik yang terancam punah

Indonesia sebagai negara dengan keragaman cukup tinggi sehingga memiliki banyak spesies endemik. Salah satunya burung maleo yang dapat ditemui di Sulawesi tengah. Maleo merupakan satwa endemik di Sulawesi dan pulau Buton yang termasuk dalam famili Megapodiidae. Maleo memiliki nama spesies Macrochepalon maleo dengan populasi diperkirakan antara 4000-7000 ekor, dan secara drastis populasinya terus menurun sejak 1950 dikarenakan hilangnya habitat hutan tempat tinggal maleo, perburuan liar, serta perilaku alami bertelurnya.

Maleo memiliki panjang tubuh antara 55-60 cm dengan warna bulu hitam pada bagian dorsal dan putih pada bagian ventralnya, serta memiliki ekor berukuran sedang. Kepala maleo berwarna hitam dengan warna kulit disekitar mata berwarna kuning, dan paruh berwarna jingga. Di atas kepala terdapat tanduk dan jambul keras berwarna hitam yang dimiliki baik jantan dan betina. Betina umumnya memiliki tubuh lebih kecil dibandingkan pejantan. Habitat tinggal maleo yaitu pada daerah dataran rendah ataupun perbukitan hutan hujan tropis di wilayah Sulawesi terngah hingga pulau Buton dengan distribusi spesies mencapai 175.000 km persegi. Maleo memakan biji-bijian, serangga, buah, dan beberapa jenis hewan kecil lainnya. Hewan ini juga termasuk dalam hewan monogami sehingga hanya memiliki satu pasangan dalam hidupnya.

Berbeda dengan burung atau unggas pada umumnya yang mengerami telur hingga si anak menetas. Burung maleo tidak mengerami telurnya, melainkan menyimpan telurnya di dalam pasir sehingga perkembangan telur didapatkan dari radiasi panas sinar matahari ataupun panas bumi. Maleo betina dapat bertelur antara 8-12 butir. Tempat bertelur maleo dapat di pantai berpasir, pinggir danau, ataupun pinggir sungai. Telur akan menetas antara 2-3 bulan dan umumnya terjadi pada musim kemarau. Anak maleo membutuhkan waktu 2 hari untuk mencapai permukaan pasir dan dapat langsung terbang menggunakan sayapnya. Sayap maleo  yang baru menetas memiliki bentuk morfologi seperti sayap maleo dewasa. Anak maleo jga harus berjuang hidup tanpa asuhan dari induknya.

Keberadaan spesies maleo yang berkurang secara drastis sehingga satwa ini masuk dalam daftar CITES Appendix I. IUCN mengkategorikan satwa ini dalam kelompok endangered (terancam) punah. Di Indonesia, satwa ini termasuk satwa dilindungi sejak 1972. Perlindungan terhadap satwa endemik diperlukan untuk memastikan keberlangsungan hidup maleo, sehingga anak cucu penduduk bumi masih dapat melihat keberadaan maleo di masa depan. Ayo, cintai dan lindungi satwa endemik Indonesia..!!

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *